Jumat, 02 Juni 2017

Calon Pengantin wajib baca nih!! Persiapan Pernikahan Bagi muslimah

Persiapan Pernikahan Bagi muslimah
Persiapan Pernikahan Bagi muslimah

Pernikahan merupakan hal sakral yang baiknya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Beberapa hal perlu dipersiapkan sedini mungkin sebelum menginjak gerbang pernikahan. Sebagai muslimah yang akan menikah tentunya kita memerlukan persiapan sebelum menikah bagi muslimah. Artikel persiapan sebelum menikah bagi muslimah akan membantu kita untuk mengenal diri kita lebih jauh untuk mempersiapkan diri sebagai seorang muslimah yang akan menikah.
Islam telah memerintahkan kepada hambanya untuk melengkapi separuh dari agamanya dengan menikah. Menikah adalah bentuk konsistensi seumur hidup yang juga merupakan ibadah. Dalam menjalankan ibadah, seorang hamba dituntut untuk menyanggupinya dengan sesuatu yang tidak boleh sembarangan. Diperlukan persiapan dan kesiapan diri yang baik untuk melaksanakan pernikahan.
Sejatinya, Allah telah menciptakan setiap yang diciptakannya dengan berpasang-pasangan. Begitupun dengan kita, para muslimah. Sebelum melangsungkan pernikahan kita perlu mempersiapkan beberapa hal dari diri dan lingkungan kita. Berikut akan dipaparkan beberapa persiapan yang akan membantu kita untuk lebih sigap mempersiapkan diri sebelum menikah.

Persiapan Spiritual

Islam telah menjadikan pernikahan sebagai suatu gerbang untuk mempertemukan seorang muslim dan seorang muslimah dan menyatukannya dalam satu ikatan yang halal dan diridhoi. Sebagai muslimah, tentunya kita mengharapkan seseorang yang kelak menjadi imam kita adalah seseorang yang baik dan shalih. Pada dasarnya, Allah telah menciptakan segala sesuatu dan memasangkannya dengan sesuatu yang sama pantasnya, seperti dalam dalil dikatakan:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).
Jika kita ingin memiliki suami yang baik dan shalih, tentunya kita pun harus berupaya mengubah diri untuk menjadi baik dan shalihah.

Persiapan Konsepsional

Menikah berarti beribadah, menikah berarti kita akan mewujudkan ibadah yang lebih berkualitas dan lebih baik di hadapan Allah. Menikah mengharuskan kita untuk mampu membentuk generasi baru yang taat beragama. Banyaklah membaca buku dan mempelajari hal-hal agama yang belum kita ketahui. Terapkan banyak ibadah sunnah dan biasakanlah untuk menjalaninya agar saat menikah nanti kita mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita kelak.

Persiapan Kepribadian

Dengan menikah, berarti kita tidak lagi hidup sendirian. Akan ada seorang laki-laki yang menuntun kita dalam menjalani hidup sesuai dengan syariah keislaman. Belajarlah untuk terbuka dan menerima perbedaan dari kepribadian yang dibawa oleh suami kita kelak, dan teruslah untuk mencoba mengenalnya lebih jauh. Kepribadian diri yang baik tentunya akan rela menerima hal-hal baru dalam hidup yang dalam hal ini dikatakan sebagai penerimaan diri yang baik untuk kepribadian suami kita kelak yang tentunya tidak melulu memiliki banyak persamaan.

Persiapan Fisik

Menikah berarti kita mencetak generasi baru yang akan meneruskan perjuangan umat. Sebelum menikah, ada baiknya kita memeriksakan terlebih dahulu kesiapan fisik kita dalam menjalankan fungsi nantinya sebagai istri yang mampu menciptakan generasi baru bersama suami kita. Permasalahan reproduksi tentunya menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan kesiapan fisik sebelum menikah bagi seorang muslimah. Dianjurkan bagi kita untuk melakukan pengobatan jika terdapat permasalahan dari hal tersebut.

Persiapan Material

Saat menjalankan pernikahan, muslimah dituntut untuk mampu mengikutsertakan diri dalam soal pengurusan material. Kewajiban mencari nafkah adalah hal yang diwajibkan bagi suami, dan sebagai seorang istri, muslimah harus mampu melibatkan diri menjadi pengelola keuangan dari nafkah yang dihasilkan suaminya. Di suatu waktu, muslimah juga dapat membantu suaminya untuk mencari nafkah jika memang diperlukan. Banyak-banyaklah menggali ilmu tentang wirausaha dan biasakan diri sedini mungkin untuk dapat berhemat dan cerdas mendahulukan hal-hal yang menjadi prioritas hidup dalam membelanjakan uang.

Persiapan Sosial

Setelah menikah, maka terjadilah proses pembauran status sosial dari dua keluarga. Menikahkan seorang muslim dan muslimah berarti juga menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam satu ikatan resmi dalam gerbang pernikahan. Setelah menikah, status sosial kita pun akan berubah menjadi istri dari seseorang, bukan lagi menjadi muslimah yang lajang. Sebagai seorang istri yang taat kepada suami, kita harus membiasakan diri untuk melibatkan diri pada aktivitas-aktivitas baru yang melibatkan suami kita dan keluarganya juga keluarga kita.

(Versi lengkap) Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia

(Versi lengkap) Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia
(Versi lengkap) Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia

Mari jadikan kisah berikut ini sebagai pelajaran, untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Apapun kondisinya. Bagaimanapun caranya. Terlebih lagi dengan bumbu “ta’aruf syar’i”, “khitbah”, namun tanpa diiringi dengan ilmu yang benar dalam penerapannya? Syaithan begitu bersemangatnya dalam menggelincirkan manusia. Apabila yang berlabel “aktivis dakwah” saja tergelincir dalam tipu muslihatnya, bagaimanatah lagi dengan kami yang sekadar berlabel ‘orang awam”?
“Ah, surga masih jauh.”
Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?
Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.
Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?
Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.
“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.
“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.
Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.
Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.
“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”
“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”
“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”
Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.
“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”
Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.
“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”
“Subhanallah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.
“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”
“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.
Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.
Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Sumber: http://www.akhwatmuslimah.com/2015/06/21/2485/seminggu-lagi-nikah-lelaki-itu-zinahi-calon-istri-lalu-meninggal-dunia-versi-lengkap/#ixzz4ipu2dnQH

Gagal menikah padahal sudah prewedding, kisahnya mengharukan

Gagal menikah padahal sudah prewedding, kisahnya mengharukan
Kisah ini kami share agar menjadi hikmah buat kita semua.

Seorang netizen dengan nama Hotmaria Ompusunggu membagikan kisah kegagalan menikahnya akibat perbedaan yang tak bisa dikompromikan lagi. Dia membagikan foto-foto prewedding yang telah dilangsungkannya, disertai dengan caption menggelitik. Sedianya, mereka akan melangsungkan pernikahan pada bulan Mei mendatang.
"Inilah salah satu bagian hidup yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Putus cinta, patah hati, sudah jadi hal yang berulang dalam hidupku. Kukira aku terbiasa, tapi ternyata yang kali ini cukup membuatku sangat hancur. Tapi Tuhan tetap tolong. Tuhan tetap menopang dan menguatkan, asalkan kita berserah dan percaya sepenuhnya padaNya," tulisnya sebagai pembuka

1. Hai… Apa kabar?
Akhirnya kuputuskan utk post foto pertama di Instagram baru ini.
Tadinya sesuai dgn kebaharuannya, aku ingin post semua ttg hidup baruku.
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain….
Sebenarnya ingin post di tanggal yang tepat nantinya, tp terlalu lama aku bersembunyi dan pura-pura tegar. Biarlah ini jadi caraku untuk mengikhlaskan dan bangkit memulai lembaran baru di hari pertama di minggu yang baru, seminggu setelah tidak ada lagi “kita”.

2. 6 Mei 2017 nanti seharusnya jd hari sakral utkku dan pasanganku yg lalu. Hari pernikahan kami. Hari yang sangat kutunggu-tunggu.
Semua hal sudah disiapkan. Waktu itu. Iya kemarin itu…
Aku sudah lihat cincin kami walau hanya lihat foto, tinggal tebus saja. Cantik. Bagus sekali…
Jasnya pun tinggal dipaskan, songket pun sudah terjahit rapi sekali. Ya sudah semua….
Tidak perlu untuk diceritakan apa alasan sampai akhirnya hubungan kami berakhir.
Yang aku ingin bagikan disini adalah…
Mencintailah sekuat kamu bisa mencintai. Berjuanglah lebih kuat dari kemampuanmu berjuang. Bersabarlah semampumu bersabar. Mencintailah sampai kau jadi orang paling bodoh dalam mencinta. Kata orang sih jangan. Tapi banyak orang lebih memilih mencintai dengan bodoh daripada kehilangan orang tersebut. Apalagi jika sudah persiapan nikah, biasanya tetap lanjut saja karena ‘terlanjur jauh’.
Tapi Tuhan gak pernah tidur, apapun caraNya, Dia bisa menyatukan bisa pula memisahkan.

3. Pasanganku tidak buruk. Dia tampan. Aku sayang sekali padanya, bahkan sampai detik ini. Aku sangat mengasihi dia lebih dan kurangnya. Aku pun percaya dia sayang sekali padaku. Dia selalu menjagaku. Omelannya kalau bajuku kurang sopan pun selalu membuat aku merasa diperhatikan olehnya. Pendiam, tapi gak akan berhenti bicara kalau sudah ingin bicara. Suka pura-pura gak lapar, padahal nanti makannya bisa berkali lipat porsinya. Cool banget kayak kulkas, kaku seperti kanebo kering, itu sebutanku untuknya. Aku merasa sangat bahagia ketika aku berhasil membuatnya tertawa. Demi Tuhan,aku sangat menyayanginya….

4. Hanya saja kami tak kunjung cocok sampai menjelang pernikahan kami. Sangat sakit pilihan itu, tapi ya banyak hal yang tidak bisa diceritakan. Bukan main-main sampai kami bisa memutuskan menikah, tapi ntahlah, Tuhan izinkan semua terjadi sampai aku menyerah. Ya aku berhenti dan menyerah. 
Bukan sesaat aku putuskan untuk menyerah, namun benar-benar di saat aku merasa sudah lelah dan sudahlah aku tak sanggup lagi untuk bertahan. Aku percaya kekuatan itu dari Tuhan, dan ketika aku tak berdaya lagi mungkin di saat itulah aku harus berhenti dan menyerah. Salahku? Ya salahku yang tak berdaya untuk mempertahankan hubungan kami.

5. Hai kamu yang pernah menjadi calon suamiku. Aku masih merindukanmu hingga hari ini. Kunikmati memandang wajahmu terakhir kali saat kau berbesar hati datang ke rumah untuk terakhir kalinya. Pamit dan bicara baik-baik kpd Mama. Semua fotomu yang kuabadikan sengaja maupun sembunyi-sembunyi pun masih lengkap di hpku, belum mampu untuk menghapusnya. Aku ingat sekali setiap momen apa saja di setiap foto itu. Karena setiap waktu denganmu itu berharga.

6. Foto-foto prewedding kita bagus sekali, sayang mau dibuang. Senyum kita lepas sekali, jarang-jarang aku bisa menikmati senyumanmu seharian kemarin itu. Terukir jelas dan indah bagaimana kamu kecup pipiku lamaaaa banget karena sedang difoto. Disitu aku merasa bahagia sekali. Hari itu. Ya. Masih sering aku lihat foto kita setiap aku rindu. Chat dari pertama kenal pun masih tersimpan meski kini kita tak lg berteman. Berharga setiap kenangan dgnmu, krn aku benar2 belajar utk mengasihi, bersabar, mendengarkan, memahami dan menggunakan akal untuk menikmati setiap waktu dgnmu.

7. Sepanjang jalan kini hanya kenangan tentang kita yang tergambarkan, makanya aku belum ingin nyetir terlalu jauh sendiri. Handphone pun kini tak ada lagi notifikasi darimu, tentu sudah mulai terasa sepi. Tak pernah kubayangkan akhirnya harus berpisah lagi dgn pria yang sudah sangat kusayangi, kucintai dirinya dan keluarganya. Ah, terlalu banyak kenangan kita. Banyak sekali dalam waktu yang singkat itu.

8. Seperti mimpi rasanya ternyata bukan kamu orang yang akan kulihat setiap hari. Bukan kamu yg akan aku ganggu kalau aku didiamin krn terlalu serius nonton TV. Bukan aku yang akan jahilin kamu tiap kamu workout yang katanya pengen kurus, tp setelahnya malah ngemil. Bukan aku yang akan merawatmu jika tiap weekend kamu demam, bukan aku yang akan duduk di lantai lihatin kamu istirahat krn sakit hehehe… Bukan tanganmu yang akan kugenggam kemana pun kita pergi. Bukan lagi wajahku yang akan selalu tersenyum di layar hpmu.

9. Hei kamu yang selalu jadi orang yang kupikirkan sebelum aku tidur dan orang pertama yang kupikirkan saat aku bangun, Terimakasih untuk pernah menambah daftar rasa senangku. Terimakasih untuk setiap waktu yang diluangkan padaku. Terimakasih untuk setiap pelukan yang menenangkan hatiku. Terimakasih untuk usaha membahagiakan aku. Terimakasih untuk niat baik melamarku. Terimakasih untuk apapun.
Maafkan ketidak cocokan kita. Maafkan segala kekurangan dan perbedaan kita yang pada akhirnya menjadi alasan perpisahan kita. Perbedaan usia 9 tahun bukan hal yang mudah dipersatukan. Sekian lama kita bertahan menahan ego masing-masing. Kita sudah sangat berusaha, tapi apa daya, perpisahan lebih baik daripada saling sakit dan menyakiti.
Sudahlah, Tuhan selalu sertai langkah kita. Bersatu atau berpisah pun ini dalam penyertaan Tuhan.

10. Untuk saudara-saudara terkasih, sahabat-sahabat, semua orang terdekat. Terimakasih untuk dukungan dan doa kalian semua. Tidak memaksaku untuk bercerita tapi memaksaku tertawa hahahaaaa. Aku tidak akan cukup kuat dan mampu sampai hari ini bahkan sampai berbagi kisah ini kalau bukan karena doa-doa kalian semua. Aku bersyukur Tuhan hadirkan orang-orang hebat yang menopang dan menguatkanku.

11. Untuk namboru dan amangboru, aku terlanjur mengasihi kalian sebagai orang tuaku, keluarga baruku. Ampuni aku utk setiap kesalahanku terutama kelemahanku untuk bertahan. Aku berdoa yang terbaik utk kalian berdua. Kekuatan dari Tuhan dan jawaban terbaik dari Tuhan pasti akan diberikan untuk namboru dan amangboru. Tidak sedikit pun aku sakit hati atau membenci kalian berdua. Apapun masalah yang lalu,... Lihat Selengkapnya.

12. Juga Terutama Mama yang selalu luar biasa. Mama sungguh hebat. Aku tahu mama jauh lebih hancur, tapi Mama tutupi itu semua untuk menguatkan aku. Mama sungguh bijak, sangat bijak mengajarkanku bagaimana berperilaku bijak atas cobaan yang terlalu berat untuk perempuan seusiaku. Mengajarkan tetap mengasihi dan mendoakan yang terbaik untuk orang lain.
Ah Tuhan, Engkau teramat luar biasa menciptakan orang-orang luar biasa dalam hidupku..
Untuk kisah ini, terimakasih aku jd orang pilihanMu untuk menjalaninya. Aku merasa spesial dgn kisah hidup yang tidak biasa ini.
Terpujilah nama Tuhan.
Banyak yang memberikan support padanya. Misalnya Cynthia Yokerina M Simanjuntak menuliskan, "Kak hottt semangat terus yaa, Tuhan selalu kasih yg terbaik buat kaka."
Lain dengan Elysa Nasri Giovanni, "Kakakkkkk, aku terharu. Stay strong and keep in faith, Kak. Terimakasih atas sharingnya, sangat menguatkan :')."
Sedangkan Parulian Purba berkomentar, "Cerita hidup yg luar biasa, tetap semangat ya Hotmaria Ompusunggu , supaya crita indah dlm waktu dkt."

Inilah mengerikanya Dosa Zina, naudzubillah

Inilah mengerikanya Dosa Zina, naudzubillah

Naudzubillahimindzalik, semoga kita tidak termasuk orang yang mudah melakukan zina. Karena berzina adalah perbuatan yang dilarang keras oleh Allah SWT dan sudah seharusnya dihindari. Bahkan mendekatinya saja sudah sangat terlarang untuk dilakukan. Perbuatan ini merupakan salah satu cara setan untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam api neraka. 


Allah SWT akan memberikan hukuman yang sangat berat bagi para pelaku zina saat masih hidup di dunia, terlebih di akhirat kelak. Selain itu, perbuatan zina tidak hanya akan membahayakan pelakunya, namun juga keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Bahkan kelak keturunan para pezina juga akan dizinai pula seperti halnya yang mereka lakukan terdahulu. Sebab zina adalah hutang, sehingga para pelakunya harus membayar hutang tersebut baik dengan dirinya sendiri maupun anak keturunannya. 

Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh imam Syafi'i bahwa zina adalah hutang yang harus dibayarkan. Berawal dari seseorang yang datang dan bertanya kepada Imam Syafi'i, "Mengapa hukuman bagi para pezina sedemikian beratnya?"

Maka wajah Imam Syafi'i pun memerah, pipinya merona delima. Lalu beliau berkata, "Karena zina adalah dosa yang bala' (besar resikonya). Akibatnya akan mengenai keluarganya, tetangganya, keturunanya hingga tikus dirumahnya dan semut di liang sekitar rumahnya."

Orang itu kembali bertanya, "Mengapa pelaksanaan hukumannya dengan itu ? Sebagaimana Allah SWT berfirman, " Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama.”

Maka Imam Syafi'i pun terdiam, ia menunduk lalu menangis. Setelah tangisnya berhenti, beliau berkata, "Sebab zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat seseorang menjadi iba. Kemudian setan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya."

Lalu orang itu bertanya kembali, " Dan mengapa Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka (pezina) disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman ? Bukankah hukuman bagi pembunuh, orang murtad dan pencuri, Allah SWT tidak mensyaratkan menjadikannya tontonan?"

Seketika janggut imam Syafi'i basah, ia terguncang. Lalu beliau berkata, "Agar menjadi pelajaran." Ucapnya sambil terisak.

"Agar menjadi pelajaran." Beliau tersedu.

"Agar menjadi pelajaran." Beliau kembali terisak.

Kemudian ia bangkit dari duduknya dan matanya kembali menyala, ia kembali bersemangat dan berkata, "Sebab ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya zina adalah hutang. Dan sungguh hutang tetaplah hutang. Salah seorang dalam nasab/keturunan pelakunya pasti harus membayarnya."

Sebab zina adalah hutang, maka taruhannya adalah keluarganya. Oleh sebab itu jauhilah zina agar keluarga terselamatkan. 

(Sumber, Kitab Imannul Taqwa halaman 15)

Dalil larangan berzina


Dalam surah An-Nur ayat 30-31, Allah SWT berfirman bahwa, 

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakana kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami, ayah, ayah suami, putra-putra dari saudara laki-laki, putra-putra dari saudari perempuan, wanita-wanita muslimah, budak-budak yang mereka miliki, pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.”

Kemudian dalam surah lainnya, Allah SWT telah memperingatkan bahwa, 

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Lalu Rasulullah SAW bersabda bahwa, 
“Di antara tanda-tanda kiamat ialah kebodohan menjadi dominan, ilmu berkurang, zina dilakukan terang-terangan dan minum-minuman keras (seolah-olah ia minuman biasa).” (HR. Bukhari)


Selanjutnya Imam Syafi'i pun berkata bahwa zina adalah hutang. Tidak akan pernah terbayar oleh seorang pria yang berzina bila istrinya, ibunya dan saudara perempuannya belum dizinai lelaki lain walaupun dari lubang pintu (dalam rumahnya) sekalipun.

Oleh sebab itulah, Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang melakukan zina. Sebab perbuatan ini mencerminkan hilangnya akhlak terpuji, menyebabkan lemahnya iman dan ketakwaannya, dan akan mematikan cahaya di hati." 

Dengan demikian, janganlah sekalipun mencoba mendekati zina. Sebab terlalu banyak keburukan yang akan diterima bagi para pelakunya, bukan hanya di dunia namun juga di akhirat kelak. Naudzubillahimindzalik.


sumber:
http://www.wajibbaca.com/2016/06/dosa-pezina-mengenai-keluarganya.html

Bikin Baper, Beginilah Cerita-cerita Romantis Islami di Zaman Rasulullah

Bikin Baper, Beginilah Cerita-cerita Romantis Islami di Zaman Rasulullah
Bikin Baper, Beginilah Cerita-cerita Romantis Islami di Zaman Rasulullah

Siapa yang tidak tahu cerita heroik para pejuang dakwah di zaman Rasulullah, sedikit banyak kita tentu pernah mendengar bagaimana perjuangan Rasulullah beserta sahabat ketika berada di medan perang. Tidak sedikit pula yang kagum pada karakteristik rasulullah juga para sahabat yang setia menemaninya di jalan dakwah.
Namun selain kisah heroik mereka di zaman itu, ada pula cerita romantis yang pernah mereka alami, dan kita dapat ambil pelajarannya untuk kita tarik ke zaman saat ini. Tentu tidak ada sejarah yang tidak bisa kita ambil hikmahnya bukan? Meski kita sudah berabad jarak dengan mereka, namun kisah-kisah itu tentu akan terulang mungkin oleh sahabat kita, adik kita, tetangga kita, bahkan mungkin oleh kita sendiri. Ketika dihadapkan pada kasus yang sama, kita bisa memilih mengikuti apa yang pernah dicontohkan oleh para teladan kita, atau justru memilih cara lain yang besar kemungkinannya kita berada di jalan yang salah. Mari kita simak cerita romantis islami Rasulullah dan para sahabat pada zaman itu. Kemudian Ambil pelajaran dari kisah tersebut.

Rasulullah dan Khadijah binti Khuwailid

Kisah mereka akan menjadi teladan cerita romantis islami terbaik sepanjang masa. Dari sekian banyak kisah tentang Rasulullah dan khadijah yang sering kita dengar, ada satu kisah yang menurut saya menarik. Ternyata sebelum rasul menikah dengan Khadijah, beliau telah memendam perasaan juga terhadap Khadijah kala itu. Alkhisah ketika sahabat Khadijah yang bernama Nafisah binti Muniah menanyakan kesediaan nabi untuk menikahi Khadijah, maka beliau menjawab. “Bagaimana caranya?”
Caran Rasulullah bertanya menggambarkan seolah-olah ia telah menunggu masa itu sejak lama. Kehidupan rumah tangga Rasulullah dan Khadijah berjalan dengan penuh keromantisan juga perjuangan yang sangat berarti. Hingga tiba masa dimana Rasulullah harus merelakan ajal menjemput istri kesayangannya yakni Khadijah Radhiallahu anha.
Setahun setelah Khadijah wafat, ada seorang sahabiah datang menemui Rasulullah. Wanita ini kemudian bertanya. “Ya, Rasulullah. Mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.” Sambil menangis Rasulullah menjawab. “Masih adakah orang lain setelah setelah Khadijah?” Jika bukan karena perintah langsung dari Allah,  mungkin saja Rasulullah tidak akan pernah menikah lagi untuk selama-lamanya karena ketulusannya mencintai Khadijah Radhiallahu anha.

Kisah Fatimah dan Ali Bin Abu Thalib

Dua pasangan ini mengajarkan kita tentang menjaga perasaan dengan cara yang baik. Mengutamakan ketaatan kepada Allah diatas segalanya, termasuk perasaan terhadap sesema manusia yang kian berkecamuk dalam dadanya. Namun sayang, fenomenanya saat ini. Sudah jarang sekali muda-mudi yang memiliki rasa malu seperti Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Sudah terlalu sering kita menyaksikan mereka yang dengan mudahnya mengumbar kemesraan jelas.
Mari kita kembalikan kisah romantisnya pada masa Fatimah dan Ali. Ketika itu Ali hanya seorang pemuda biasa yang hanya memiliki harta baju besi yang sedang ia gadaikan. Ia mencintai Fatimah, namun dirinya merasa tidak pantas jika harus mendatangi Rasulullah untuk menikahi Fatimah tanpa kemapanan harta yang cukup. Dalam ikhtiarnya memantaskan diri untuk Fatimah, selalu saja ada cerita yang ia dengar dan hampir mematahkan semangatnya. Seperti ketika ia mendengar cerita Abu Bakar dengan kesalihan dan kemapanan yang dimilikinya mendatangi Rasulullah bermaksud untuk menjadikan Fatimah sebagai Istrinya. Mendengar itu Ali kecewa namun dia lebih mendahulukan kebahagiaan Fatimah dibandingkan dirinya, ia berusaha menata hati untuk mengikhlaskan. Karena dia yakin Fatimah akan lebih bahagia dengan Abu Bakar jika dibandingkan dengan dirinya yang tidak punya apa-apa. Namun kemudian Rasulullah tidak menerima lamaran Abu Bakar, dengan alasan Fatimah masih terlalu muda. Begitupan dengan Umar dan Utsman, kedua sahabat Ali yang juga tidak kalah salih dan kaya itu pun ditolak oleh Rasulullah. Betapa kejadian itu kian menimbulkan keresahannya timbul tenggelam.
Suatu hari datanglah Ali menemui Rasulullah dengan segala kekurangan dan kelebihannya.Ia  memberanikan diri menghadap rasulullah dan menyampaikan maksud hatinya untuk meminta Fatimah menjadi istrinya, singkat cerita, Rasulullah menerimanya.
Lalu keromantisan Fatimah dan Ali berlanjut terus hingga mereka menjadi pasangan suami dan istri. Suatu hari pernah Fatimah Az Zahra mengatakan sesuatu tanpa disengaja dan perkataan itu membuat hati Ali terusik. Menyadari bahwa ia bersalah, Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali kepada Ali.
Melihat wajah Ali tak juga berubah, maka Fatimah Az-Zahra berlalri-lari kecil di sekitar Ali. Sebanyak 7 kali ia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu mohon untuk dimaafkan. Melihat tingkah Fatimah di hadapannya, Ali tak dapat menahan senyum. Kemudian ia tersenyum dan memaafkan kesalahan isterinya. Selain memiliki sifat yang romantis terhdap suami, ia juga anak yang memiliki sisi romantisme terhadap ayahnya (buka link beriku . . . abiummi.com ). Mendengar kejadian itu, Rasulullah berkata pada putrinya. “Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedangkan suamimu tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyolatkan jenazahmu.”
Dalam hal ini, Rasulullah sedang mengajarkan pada putrinya (juga pada kita para isteri salihah) tentang bagaimana kedudukan seorang suami sebagai pemimpin di keluarga. Agar para isteri mampu menghargai suaminya dan mau menjaga perasaan suami. Kepatuhan seorang Fatimah juga ia lakukan karena Ali adalah suami yang memang pantas untuk diapatuhi dan dituruti kata-katanya. Hadits dianjurkannya seorang istri patuh kepada suami ada pula dalam hadits berikut. “Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga.” (HR Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Imam Tarmidzi).
Hadits lainnya juga dikatakan. “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Kisah Rasulullah SAW dan Aisyah

Cinta Rasulullah kepada Aisyah dan kepada Khadijah tentu berbeda. Meski jika Rasulullah setiap kali ditanya tentang siapa yang paling dicintainya beliau pasti akan menjawab “Aisyah”. Sedangkan Rasulullah mencinta Khadijah sebagai karunia dari Allah. Rasullah mencintai Aisyah karena gabungan anatara pesona kecantikan, kepintaran, dan kematangan diri. Ummu salamah berkata, bahwa Rasulullah tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.
Bahkan diusia Rasulullah yang semakin lanjut dan memiliki rentang usia yang cukup jauh dari Aisyah, Rasulullah dapat menyesuaikan dirinya untuk menjadi bagian dari dunia Aisyah pada usianya yang masih mudah. Keromantisan mereka diceritakan Imam Ahmad dan Abu Dawud dalam hadisnya. “Pernah Rasulullah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba lari dengannya. Rasulullah kalah. Lain waktu Rasulullah kembali mengajak Aisyah berlomba lari dan Rasulullah memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata, “Ini pembalasan yang dulu.”
Keromantisan lain yang Rasulullah tunjukan pada Aisyah adalah ketika ia minum. Ia meminum air di gelas yang telah aisyah minum dan meminum bagian gelas di bekas bibir Aisyah. Dan masih banyak lagi kehangatan Rasulullah yang ia tunjukan kepada Aisyah.
Sedangkan dalam cerita ini Rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang suami perlu menyenangkan hari isterinya. Rasulullah pernah bersabda. “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Umar Bin Abdul Aziz dan Fatimah Binti Abdul Malik

Cinta yang didasari ketaatan karena Allah, akan tumbuh abadi jika dibandingkan dengan cinta karena alasan lainnya, terlebih karena alasan paras dan harta yang sewaktu-waktu akan hilang. Cerita romantis islami lainnya datang dari sahabat Rasulullah yang paling tegas dan terkenal dengan kegagahannya yakni Umar bin Abdul Aziz. Beliau menikah dengan perempuan cantik dan baik akhlaknya bernama Fatimah binti Abdul Malik. Dua pasangan yang sama-sama berasal dari keluarga bangsawan, dan sama-sama memiliki perangai yang baik ini kisahnya terkenal sepanjang sejarah kota Damaskus. Jika dilihat dari latar belakang dua keluarga pasangan ini, banyak yang mengira bahwa keluarga mereka akan hidup bahagia dengan gelimang harta hingga mereka tua. Namun kenyataannya tidak seperti itu.
Ketakwaan Umar terhadap Allah, membuat ia dengan tegas memutuskan untuk membaktikan seluruh harta, waktu, dan tenaganya untuk negra dan untuk umat yang dicintainya. Ia menyerahkan semua kekayaannya pada Negara, dan membawa serta Fatimah binti Abdul Malik untuk tinggal di sebuah gubuk kecil bersamanya. Ia mengajarkan pada kita semua bahwa kedudukan tertinggi dalam sebuah pemerintahan, tak lantas membuat seorang pemimpin harus bermewah-mewahan dengan harta.  Dan Fatimah mengajarkan pada kaum perempuan,  tentang kepatuhan terhadap suami, tentang mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keputusan suami dalam jalan dakwah. Dan satu lagi pelajarannya adalah tentang hidup sabar dan ikhlas dalam kesederhanaan bersama suami yang dicintainya.
Diceritakan suatu hari ada seorang wanita datang ke gubuk mereka. Wanita itu berkata pada Fatimah, “Alangkah baiknya bila Anda menyingikir dari pandangan tukang batu itu. Sebab ia selalu melihat ke wajah Anda.” Fatimah kemudian tersenyum dan menjawab pada wanita tersebut. “Tukang batu itu adalah suamiku sang Amirul Mukminin.”
Kedua pasangan ini mengajarkan bahwa harta bukanlah segalanya, hidup akan tetap bahagia meski mereka harus melepaskan segala keberlimpahan harta yang dulu pernah mereka miliki untuk digantikan dengan kehidupan yang jauh lebih sederhana dari kehidupan biasnaya. Tidak terhitung seberapa sering mereka mengalami kejadian tidak memiliki uang sepeser pun. Fatimah dan umar mengalami hidup dengan hanya memiliki selehai gaun, baju umar yang sudah memiliki tambalan tidak membuatnya malu, justru itu membuanya bangga dengan Umar. Karena kualitas seorang pria tidak diukur dari baju yang ia kenakan, tetapi lebih kepada apa yang telah ia lakukan untuk orang lain.
Setelah Umar wafat, Fatimah dinikahi oleh seorang bangsawan kaya. Namun bagi Fatimah kebahagian yang ia alami bersama Umar tidak akan tergantikan oleh sebesar apapun uang yang diterimanya. Hidup sederhana atas dasar ketaatan kepada Allahlah yang sejatinya membuat mereka hidup bahagia hingga hari tua.

Abdurrahman Bin Abu Bakar Assidik dan Atika

Putra dari Abu Bakar Assidik ini begitu mencintai istrinya yang bernama Atika, begitupun sebaliknya. Melihat hal ini, Abu Bakar merasa khawatir jika cinta mereka akan melalaikan keduanya dari beribadah kepada Allah. Kemudian Abu Bakar meminta anaknya untuk menceraikan istrinya tersebut. Ia mematuhi perintah ayahnya meski kecintaan Abdurrahman masihlah begitu besar terhadap istrinya dan ia tidak dapat melupakan istrinya.
Tanpa Atika dalam hidupnya, ia larut dalam duka meski sebisa mungkin ia berusaha untuk tegar. Hingga kedukaannya melahirkan sebuah syair berisi seperti ini:
Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya
Karena kesabaran keduanya mengahadapi ujian yang diberikan ayahnya. Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan rujuk kembali. Dan Abdurrahman membuktikan beberapa saat setelah itu ia syahid di medan perang. Ia buktikan pada ayahnya bahwa cintanya terhadap istrinya tidak akan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah.

Thalhah ibn ‘Undaidillah dan Aisyah

“Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”
Ayat ini muncul ketika Thalhah ibn Ubaidillah bergumam dalam hatinya. “Akan kunikahi Aisyah jika Nabi telah wafat.” Siapakah Thalhah itu? Thalhah masih terbilang sebagai sepupu dari Aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah.
Suatu hari Thalhah sedang berbincang dengan Aisyah. Kemudian Rasulullah datang menghampiri keduanya dengan air muka tak suka melihat pemandangan tersebut. Rasulullah meminta Aisyah dengan isyarat untuk masuk ke dalam bilik. Kemudian wajah Thalhah memerah dan ia pergi meninggalkan Rasulullah dengan gumam di dalam hatinya karena kesal. “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”
Karena kejadian inilah ayat tersebut turun. Dan ketika ayat itu dibacakan, Thalhah menangis menyesali perbuatannya. Ia bertobat kepada Allah dengan memerdekakan budaknya dan menyumbangkan sepuluh untanya di jalan Allah, selain itu ia juga menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki.
Ketaatannya kepada Allah dan Rasulullah tidak dapat dikalahkan oleh perasaan lain yang haram baginya. Namun kasih yang tak mungkin sampai ini masih tetap ada sehingga ia melimpahkan kasih sayang itu kepada putrinya, sehingga menamai putrinya dengan nama Aisyah binti Thalhah. Banyak hadits juga yang menceritakan kecemerlangan Aisyah binti Thalhah pada zamannya. Ia memiliki kecantikan dan kepintaran yang hampir sama dengan Aisyah binti Abu Bakar.
sumber:http://abiummi.com/6-cerita-romantis-islami-di-zaman-rasulullah